9.19.2012

Ayam Bakar Politis


"Mba, makan apa?" tanya Mas Gi, rekan kantor yang memang bertugas membelikan makan siang.
"Makan apa ya, Mas Gi? Warteg lagi? Pakai labusiam, ya," pesan saya.
"Mba, mau ayam bakar, gak? Itu, warung yang di bawah itu, teman saya yang jual. Saya mau sekalian ada urusan ke sana."
"Teman atau teman, Mas Gi?" canda saya.
"Saya mau minta dia besok jangan lupa coblos Jokowi," balas Mas Gi yang asli Solo.

Akhirnya, saya batal makan dengan sayur labusiam dari warteg.


12.07.2011

Sapuan di Lapangan Parkir Ragunan

Sreg, sreg, sreg. Terdengar suara sapuan Sri di lapangan parkir Taman Margasatwa Ragunan. Dengan sapu lidi bergagang panjang yang dipegangnya, Sri mengumpulkan bunga dan dedaunan yang gugur dari pohon-pohon yang melindungi mobil-mobil mewah yang sedang parkir.

“Saya sudah sepuluh tahun kerja di sini,” katanya, sambil terus bekerja. “Dari awal, mandor sudah poskan saya di luar. Di dalam masih ada teman-teman saya.” Dengan gerakan wajah, dia menunjuk seorang pria di kejauhan yang juga berseragam biru dongker. Sama seperti Sri, pria itu sedang menyapu lapangan parkir.

Ia lalu menghilang di antara dua mobil sedan mengkilat. Tak sampai dua menit, dia muncul lagi sambil menyapu setumpuk guguran kelopak merah.

“Tiga puluh ribu sehari,” itu honornya. Hari Sabtu dan Minggu pun mereka harus masuk. Lumrah, karena di akhir pekanlah pengunjung Ragunan bertambah banyak. “Saya kerjanya sama PT. PT itu dipake sama Ragunan,” kata perempuan yang tinggal di Cilandak itu.

Pohon-pohon rindang itu tidak mampu memberinya keteduhan. Keningnya berkeringat, setetes dua tetes jatuh ke lapangan. Matahari memang sungguh terik di siang itu.

“Disapu paling nggak tiga kali sehari,” ceritanya. Bunyi sreg, sreg, sreg masih tetap terdengar dari sapuannya. “Mulai jam tujuh. Istirahatnya jam duabelas sampai jam satu. Kalau kotor lagi, ya, disapu lagi.” Ia menoleh ke jalur yang telah disapunya. Di sana, kelopak-kelopak bunga merah kembali mewarnai jalur itu.

Di jalur itu pula, beberapa tumpukan sampah yang dikumpulkan Sri siap untuk diangkut. Seorang pria menyekop tumpukan itu, lalu memasukkannya ke tempat sampah. Nantinya sampah-sampah itu akan dibawa dengan truk.

“PT Dwi Karya,” Adriyanto, pria itu, memberitahu nama perusahaan yang mempekerjakan mereka. Ia berseragam coklat muda, berbeda dengan Sri. “Saya bukan mandor di sini,” ujarnya sambil tersenyum.

Adriyanto lanjut berjalan, masih dengan sekop di tangannya. Ia mengikuti tumpukan yang ditinggalkan Sri dan rekannya. Mereka bergerak menjauhi antrian orang-orang yang hendak membeli tiket masuk. Jelas, para pengunjung itu ingin melihat satwa koleksi Ragunan. Tiada di antara mereka yang menoleh ke arah Sri atau Adriyanto. Mungkin, pandangan mereka memang terhalang oleh barisan mobil-mobil mewah itu.

Matahari masih bersinar terik saat sebuah sedan bergerak meninggalkan lapangan parkir itu. Mobil itu melindas tempat jatuhnya keringat Sri yang tak lagi berbekas.

11.21.2011

"Selamat Ulang Tahun, Mex."

Beberapa bulan lalu, Mama bertemu dia dalam mimpinya. Dia terlihat sudah dewasa. "Tampan dia," Mama bercerita. Seandainya dia masih hidup, mungkin memang sebesar itulah dia.

Dalam mimpi itu, Mama bertemu dia di Medan. Terasa kalau kami sudah lama tak bertemu, kata Mama.

Mereka mengobrol tentang banyak hal, salah satunya tentang saya.
Dia, "Kakak apa kabar, Ma?"
Mama, "Kakakmu sekarang nganggur, belum dapat kerja dia."
Dia, "Mudah-mudahan bentar lagi dapat, ya, Ma."
Mama, "Makanya baik-baik kau, Mex. Mama masih sibuk ngurusin Kakakmu."

Saya menangis sejadi-jadinya saat Mama menceritakan mimpinya itu via telepon.

Ketika itu, saya sudah berbulan-bulan menganggur dan hampir mengalami krisis percaya diri. Saya putus kuliah S2 dan hidup hikikomori. Lalu, di awal November, saya diterima bekerja di tempat yang sesuai dengan idealisme saya sejak kuliah S1 dulu.

Saat pergantian hari tadi, saya menangis saat menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk dia. Saya berusaha untuk tidak bersedih, karena saya ingin mengingatnya bukan sebagai "adik yang sudah meninggal," namun sebagai "adik yang pernah lahir."

Kepadanya, kali ini saya bisa bilang, "Dek, Kakak sekarang sudah kerja di tempat yang kakak pengen dari dulu."

Sekali lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya, "Selamat ulang tahun, Mex."

Kakak selalu merindukanmu.